Selasa, 06 April 2010

Alat Pengukur Curah Hujan (Jenis Sifon) Ilmu Kebumian.

Alat Pengukur Curah Hujan (Jenis Sifon)

Ilmu Kebumian.

Pada postingan kali ini, saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari Sdri. mengenai alat yang digunakan dalam mengukur curah hujan.

Sebelum mengetahui alat yang digunakan dalam pengukuran curah hujan, perlu diketahui pula mengenai satuan dalam pengukuran curah hujan. Milimeter (mm) ataupun inchi (in) merupakan satuan yang digunakan dalam mengukur curah hujan. Oh iya, curah hujan sendiri merupakan istilah yang biasa digunakan di Indonesia untuk menunjukkan bentuk endapan yang sering dijumpai, selain salju (biasa dijumpai di negara dengan 4 musim) dan batu es hujan. Kembali ke satuan curah hujan, seperti disebutkan di atas bahwa satuan untuk mengukur curah hujan yaitu millimeter ataupun inchi (1 inchi = 25,4 mm), hal ini menandakan bahwa curah hujan dinyatakan sebagai tinggi ataupun panjang. Sebagai contohnya adalah jika jumlah curah hujan yang turun ke bumi adalah 1 mm ini menunjukkan bahwa tinggi air hujan yang menutupi permukaan sebesar 1 mm jikazat cair tersebut tidak meresap ke dalam tanah atau atau menguap ke atmosfer (Bayong, 2004).

Untuk mengukur seberapa banyak jumlah curah hujan yang terjadi dalam suatu waktu diperlukan suatu alat pengukuran. Pluviometer ataupun penakar hujan (rain gauge), merupakan alat yang biasa digunakan dalam hal pengukuran curah hujan.

1. Rain Gauge

Dari gambar diatas dapat terlihat bahwa dalam Rain Gauge terdapat gelas/tabung ukur (di gambar ditunjukkan dengan nama Measuring tube) dengan luas corong penakarnya yaitu 200 cm2 atau 400 cm2, dimana gelas/tabung ukur tersebut digunakan untuk menampung air hujan yang masuk ke dalam alat tersebut. Dimana tinggi air hujan yang terdapat dalam gelas ukur tersebut dapat dilihat dari penanda ukuran (dalam gambar : measuring scale). Selain penakar hujan biasa tersebut, terdapat pula penakar hujan jenis pencatat atau otomatis. Dalam hal ini kita tidak perlu susah-susah untuk mencatat berapa jumlah curah hujan yang terjadi dalam suatu waktu, karena jenis penakar hujan ini akan secara otomatis mencatatnya untuk kita dalam sebuah kertas pias yang telah tergoreskan oleh sebuah pena yang terhubungkan dengan sebuah pelampung dalam rain gauge yang menggerakan naik atau turunnya pena tersebut dalam kertas pias. Penakar hujan otomatis tersebut merupakan penakar hujan jenis sifon.

Gambar 2 : Penakar hujan otomatis jenis sifon

(Sumber : )

Secara lengkapnya cara kerja penakar hujan otomatis jenis sifon adalah sebagai berikut :

Air hujan ditampung dalam silinder yang didalamnya terdapat sebuah pelampung. Pelampung itu sendiri dihubungkan dengan sebuah pena yang bertugas untuk menggoreskan tintanya ke dalam sebuah kertas pias. Pelampung itu sendiri bergerak naik atau turun tergantung dari banyaknya air hujan yang tertampung dalam silinder tersebut. Jika airnya banyak maka pelampung akan bergerak ke atas dan secara otomatis pula pena akan bergerak ke atas dan menggoreskan tintanya pada bagian atas kertas pias dan juga sebaliknya. Lebar kertas piasnya sendiri dibuat hanya sebesar 20 mm, dimana kertasnya dibuat mengelilingi sebuah alat. Nah bagaimana jika curah hujan yang ada dalam silinder lebih dari 20 mm?, jawabannya adalah air tersebut dibuang melalui sifon dan ditampung oleh sebuah gelas tabung, sehingga pelampung bergerak ke dasar kembali dan membuat penanya bergerak menuju angka 0 dalam kertas pias.

Oke, sekian dulu postingan saya kali ini, untuk lanjutan mengenai jenis alat lainnya dalam pengukuran curah hujan tinggal ditunggu aja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar